3 idiots

3 idiots

Sabtu, 28 Agustus 2010

do'a untuk ibu


Sebelumnya, aku tidak pernah ada. Sebelumnya aku bukanlah apa-apa. Tetapi, Tuhan telah mengamanatkan kepadamu untuk menyimpan ciptaannnya kepada dirimu, yaitu aku. Dan, dengan hati yang tulus engkau menerimaku. Merawatku dengan baik. Melindungiku dalam tempat yang sangat aman.
Ketika aku masih tidur nyenyak dalam kokohnya rahim ibu, aku bukanlah apa-apa. Hidupku bergantung kepadamu. Aku tidak bisa makan, tidak bisa minum. Tetapi engkau memberiku cahaya kehidupan. Sehingga aku dapat bertahan. Aku masih bisa hidup.
Ketika aku baru lahir di dunia ini, aku lemas tak berdaya. Aku tidak memiliki kekuatan sedikitpun. Aku hanya bisa merengek berteriak-teriak meminta pertolongan. Seolah-olah aku betah di dalam alam rahim dan takut akan kehidupan dunia. Tetapi engkau rela mengorbankan nyawamu demi kelangsungan hidupku. Di antara hidup dan mati, engkau berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkan hidupku. Lalu kau kenalkan kehidupan dunia kepadaku. Tanpamu, mungkin aku sudah mati, tak tahan dengan kehidupan dunia.
Ketika aku masih bayi, aku tidak bisa melakukan apapun. Tetapi, berkat engkau, aku bisa menikmati dunia. Aku bisa makan karena engkau rela memberikanku sesuatu yang sangat berharga. Dan engkaupun rela membersihkan suatu benda keji hingga aku sebersih ini. Selama aku hanyalah mahluk lemah di dunia, engkaulah yang memberiku nafas sehingga aku bisa berdiri di sini.
Ketika aku masih kanak-kanak, aku adalah manusia bodoh yang tidak tahu isi dunia. Aku tidak tahu jalan mana yang harus aku tempuh. Aku hanyalah manusia yang masih polos dan tergantung. Tetapi engkau mendidikku dengan sepenuh hati. Mengajarkan, mengenalkan dunia ini kepadaku. Mengajarkan kepadaku, mana yang baik dan buruk. Bersama ayah, engkau juga membanting tulang tanpa kenal waktu. Untuk menfkahiku. Hingga aku tumbuh sebesar ini. Hingga aku bisa bertahan hidup sampai detik ini.
Kini, aku menginjak usia remaja. Kini, aku sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Kini, aku cinta akan kehidupan dunia ini. Kini, aku sudah bisa melakukan segalanya. Kini, waktunya aku untuk membalas budi terhadap wanita pahlawan dalam hidupku. Tetapi, lihatlah diriku!. Setiap kau meminta hal kecil dariku, aku selalu membantahnya. Aku selalu tidak bisa melakukan suatu hal kecil yang sebenarnya tidak sulit untuk kuturuti. Aku selalu sibuk dengan urusanku sendiri. Entah mengapa, kadang aku bertanya pada diriku sendiri, “ Ada apa dengan diriku ini? Mengapa tangan ini begitu berat untuk membuatmu bahagia untuk sekali saja? Mengapa aku begitu kejam terhadapnya? Mengapa aku begitu naif dan tidak tahu berterima kasih kepadanya?”.
Di setiap kesunyian malam, engkau selalu berdo’a. Meminta-minta kepada Sang Pencipta dan Maha Kuasa. Dengan cucuran air mata yang meleleh dari mata indahmu. Agar kelak dewasa, aku hidup bahagia. Aku dapat membalas keringat yang dia cucurkan demi buah hatinya. Agar dia tidak sia-sia merelakan hidupnya untukku.
Ibu, maafkan aku. Sebenarnya aku ingin sekali membuatmu tersenyum. Aku ingin membalas cinta yang kau berikan kepadaku. Aku ingin memeluk hangat tubuhmu, yang dulu kau peluk aku dengan kasih putihmu. Kasih sayangmu selalu terasa dalam setiap hembusan nafasku. Aku masih bisa membuka mata ini, berdiri tegar di sini, tertawa bahagia di sini, karenamu. Indahnya dunia takkan pernah kurasakan tanpamu. Aku ada karena engkaupun ada. Cintamu terukir abadi dalam kalbuku.
Ibu, semoga tuhan menjadikanmu wanita surga. Semoga engkau di berikan kenikmatan abadi di surga. Atas pengorbananmu terhadap diriku. Atas cintamu yang tak terbalaskan. Atas cintamu yang tak pernah berakhir.
Ibu, ridhoilah aku, untuk menikmati keindahan surga yang abadi. Izinkanlah aku bertemu denganmu di surga. Aku ingin melihatmu tersenyum berseri-seri di surga. Janganlah sampai kau jerumuskanku ke dalam jurang neraka, karena kedurhakaanku terhadap dirimu di dunia. Karena, sesungguhnya ridho tuhan itu, ada pada dirimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar